Khitobah: “MEMBENTUK PRIBADI YANG BERIMAN”

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Sesungguhnya segala puji adalah bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampunan, dan bertaubat kepada-Nya. Kita pun berlindung kepada Allah dari keburukan hawa nafsu dan kejelekan amal-amal kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada lagi yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga salawat (pujian) selalu terlimpah kepadanya, segenap pengikut dan para sahabatnya semua, demikian pula semoga keselamatan sebanyak-banyaknya senantiasa tercurah kepada mereka.

Amma ba’du.

Saudara-saudara seiman dan seagama marilah kita bersama-sama meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah ta’ala, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjaga dirinya dan menunjukinya kepada kebaikan urusan agama dan dunianya. Perlu kita ketahui saudara seiman dan seagama, sesungguhnya nikmat dari Allah sangatlah banyak, tak terhingga bilangannya dan tak terbatasi ukurannya. Allah berfirman (yang artinya), “Apabila kalian berusaha untuk menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan mampu menghingganya.” (QS. Ibrahim : 24). Sesungguhnya nikmat kenikmatan dari-Nya yang paling agung adalah kenikmatan iman. Itulah kenikmatan terbesar dan anugerah teragung dari Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Allah (yang artinya), “Akan tetapi Allah itulah yang membuat iman terasa menyenangkan bagi kalian, membuatnya tampak indah di dalam hati kalian, dan yang membuat kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang lurus. Sebuah keutamaan dan kenikmatan yang datang dari Allah, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Hujurat : 7-8).

Terdapat suatu riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidak sempurna iman pada diri orang yang tidak amanah.” Amanah  meliputi penjagaan terhadap ajaran-ajaran agama dengan senantiasa taat kepada Rabbul ‘alamin dan menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Amanah itu juga mencakup hak sesama hamba Allah, yaitu dengan menjaga hak-hak sesama, menyampaikan barang-barang titipan, menjauhi pengkhianatan, meninggalkan penipuan, dan meninggalkan berbagai jenis mu’amalah tidak benar yang lain.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Imron, ayat 110: “kuntum khoiro ummati uhrijat linnasi ta’muruna bil ma’rufi wa tanhauna anil mungkar” yang artinya: “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma”ruf dan mencegah dari yang mungkar.”

Termasuk dalam keimanan yakni adalah meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan kemungkaran. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina dalam keadaan imannya sempurna. Tidaklah mencuri seorang pencuri ketika dia mencuri dalam keadaan imannya sempurna. Tidaklah seorang meminum khamr dalam keadaan imannya sempurna ketika dia meminumnya. Tidaklah seorang merampas barang berharga sehingga membuat orang lain menyorotkan pandangan mata mereka kepadanya ketika dia melakukannya dalam keadaan imannya sempurna.” Hadits ini menunjukkan bahwa melarutkan diri dalam kemaksiatan-kemaksiatan ini dan melakukan dosa-dosa besar ini menyebabkan berkurangnya iman wajib. Sehingga tindakan meninggalkan zina, tidak meminum khamr, tidak merampas, tidak mencuri, itu semua merupakan bagian dari keimanan yang diwajibkan oleh Allah tabaraka wa ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Barangsiapa yang melakukan salah satu di antara perkara-perkara itu maka iman wajibnya telah berkurang sesuai dengan kadar dosa yang dia lakukan dan berbanding lurus dengan tingkat kemaksiatan yang dia kerjakan.

Setan mendekati manusia untuk membujuk manusia agar mengulangi kejahatan dan mendustakan kebenaran. Tentunya dengan begitu kita harus pintar didalam membentengi hati kita agar senantiasa tidak tertarik kepada kenikmatan sesaat. Salah satunya dengan menanamkan rasa iman didalam hatinya guna membentuk pribadi yang baik di sisi Allah. Dalam menanamkan rasa iman pada diri kita, tentunya tidak akan lepas dari kehidupan sehari-hari kita. Ketahuilah bahwasanya rendah diri hamba yang terlibat  dalam perbuatan maksiat, lebih baik dari pada angkuhnya hamba yang berbuat ta’at. Seorang hamba yang ta’at beribadah, akan tetapi tumbuh rasa angkuh dan riya’ dalam hatinya, maka kemungkinan Allah Ta’ala akan meremehkan amal ibadahnya itu. Ada juga hamba Allah yang sering terlibat perbuatan dosa, yang sangat menyedihkan hatinya, Allah memberi hidayah kepadanya, lalu tumbuh penyesalannya dan rasa khasiyah kepada Allah, ia telah berjalan menuju keselamatan. Dalam beribadah yang semata-mata dihadapkan kepada Allah Ta’ala belaka, seorang ‘abid yang takwa hendaknya berhati-hati memelihara ibadahnya sendiri. Janganlah sampai bercampur baur dengan kehendak lain yang akan menjerumuskan si hamba  kepada perasaan angkuh, riya’, ujub, rasa suci, menganggap orang lain kotor, membuat diri sendiri seakan-akan tidak ada yang menyamainya, atau menempatkan diri sebagai manusia suci yang harus menyisihkan diri dari anggopta masyarakat yang dianggap kotor dan berdosa. Seorang muslim yang mengikuti jejak Rasulullah saw, tetunya mempunyai rasa peduli kepada saudaranya yang dianggap banyak maksiat, agar menjadi shaleh, hidup beribadah bersama para muslim lainya.

Syekh Abdul Qadir Jailani berkata: “Bila engkau bertemu dengan seseorang hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama dari pada dirimu dan katakan dalam hatimu: boleh jadi dia lebih baik di sisi allah daripada  diriku ini dan lebih tinggi derajatnya.”

Jika dia orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya daripada dirimu, maka katakanlah dalam hatimu: “Boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah, sedangkan aku ini adalah orang yang telah banyak berbuat dosa, maka tidak diragukan lagi kalau orang ini lebih baik di sisi allah daripada  diriku ini dan lebih tinggi derajatnya.”

Bila dia orang yang lebih tua umurnya daripada dirimu, maka katakanlah dalam hatimu: “Orang tua ini lebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku.”

Jika dia orang yang alim, maka katakanlah dalam hatimu: “orang ini telah oleh Allah sesuatu yang tak bisa aku raih, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui dan telah mengamalkannya, maka tidak diragukan lagi kalau orang ini lebih baik di sisi allah daripada  diriku ini dan lebih tinggi derajatnya.”

Segala puji bagi Allah, Yang begitu besar kebaikannya dan begitu luas karunianya, Yang Maha Pemurah lagi Maha Memberikan kenikmatan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa as-habihi ajma’in wa sallama tasliman katsiran. Wabilahi taufik wal hidayah wa ridho wal inayah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


About this entry