Hadits Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

عَنْ أَ بِىْ سَعِيْدٍ ا لْخُدْرِىِ رَضِىَ ا للهُ عَنْهُ عَنِ ا لنَبِىِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَمَ قاَ لَ [[ أَ فْضَلُ ا لْجِهَا دِ كَلِمَةٌ عَدْ لٌ عِنْدَ سُلْطَا نٍ جَا ئِرٍ ]]

[رواه أبو دواد والترمدى] وقال: حد يث حسن

Terjemah Haditsترجمة الحديث :

Dari Abu Sa’id Al Khudry ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda : “Berjuang yang paling utama adalah mengatakan keadilan pada penguasa yang menyeleweng”. (Riwayat Abu Daud dan At Turmudzy)

 

Mufrodat didalam Hadits tersebut:

  • Berjuang          :   جِهَا دٌ
  • Keadilan          : عَدْ لٌ
  • Penguasa         :       سُلْطَا نٍ
  • Menyeleweng : جَا ئِرٍ

 

Syarah dari Hadits diatas:

Keberadaan hadits tersebut tentunya tidak akan lepas dari hadits tentang amar ma’ruf nahi mungkar ke ketiga puluh empat, yakni:

 

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim).

Penjelasan:

Keadilan  adalah  kata  jadian  dari kata “adil”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “adil” diartikan: (1) tidak berat sebelah/tidak  memihak,  (2) berpihak    kepada   kebenaran,   dan   (3)   sepatutnya/tidak sewenang-wenang.

“Persamaan” yang merupakan makna asal kata “adil” itulah  yang menjadikan  pelakunya “tidak berpihak”, dan pada dasarnya pula seorang yang adil “berpihak kepada  yang  benar”  karena  baik yang  benar  maupun  yang  salah  sama-sama  harus  memperoleh haknya. Dengan demikian, ia  melakukan  sesuatu  “yang  patut” lagi “tidak sewenang-wenang”.

Ada empat makna keadilan  yang  sering kita dengar ataupun kita rasakan, yakni:

 

Pertama, adil dalam arti “sama”

Mungkin kita dapat  berkata  bahwa si A adil, karena yang Anda maksud adalah bahwa dia  memperlakukan  sama  atau  tidak  membedakan seseorang  dengan  yang lain. Tetapi harus digarisbawahi bahwa persamaan yang dimaksud  adalah  persamaan  dalam  hak.  Dalam surat Al-Nisa’ (4): 58 dinyatakan bahwa,

“Apabila kamu memutuskan perkara di antara manusia, maka hendaklah engkau memutuskannya dengan adil…”

Kata “adil” dalam  ayat  ini  -bila  diartikan  “sama”-  hanya mencakup   sikap   dan   perlakuan   hakim  pada  saat  proses pengambilan keputusan.

 

Kedua, adil dalam arti “seimbang”

Keseimbangan  ditemukan  pada  suatu kelompok yang di dalamnya terdapat beragam bagian  yang  menuju  satu  tujuan  tertentu, selama syarat dan kadar tertentu terpenuhi oleh setiap bagian. Dengan terhimpunnya syarat ini, kelompok  itu  dapat  bertahan dan berjalan memenuhi tujuan kehadirannya.

“Wahai manusia, apakah yang memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu, dan mengadilkan kamu (menjadikan susunan tubuhmu seimbang). (QS Al-Infithar [82]: 6-7).

Seandainya ada salah satu anggota tubuh manusia berlebih  atau berkurang  dari  kadar atau syarat yang seharusnya, maka pasti tidak akan terjadi kesetimbangan (keadilan).

 

 

Ketiga, adil adalah “perhatian terhadap hak-hak  individu  dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”

Pengertian   inilah  yang  didefinisikan  dengan  “menempatkan sesuatu  pada  tempatnya”  atau  “memberi  pihak  lain  haknya melalui  jalan  yang  terdekat”.  Lawannya adalah “kezaliman”, dalam arti pelanggaran terhadap  hak-hak  pihak  lain.  Dengan demikian menyirami tumbuhan adalah keadilan dan menyirami duri adalah  lawannya.  Sungguh  merusak  permainan  (catur),  jika menempatkan  gajah  di  tempat raja, demikian ungkapan seorang sastrawan yang arif. Pengertian keadilan seperti ini, melahirkan keadilan sosial.

 

Keempat, adil yang dinisbatkan kepada Ilahi

Adil di sini berarti “memelihara kewajaran  atas  berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu.”  Semua wujud tidak memiliki hak atas Allah. Keadilan Ilahi pada dasarnya   merupakan   rahmat  dan  kebaikan-Nya.  KeadilanNya mengandung konsekuensi bahwa rahmat A h  Swt.  tidak  tertahan untuk diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya. Sering  dinyatakan  bahwa  ketika A mengambil hak dari B, maka pada saat itu juga B mengambil hak dari A.  Kaidah  ini  tidak berlaku  untuk  Allah Swt., karena Dia memiliki hak atas semua yang ada, sedangkan semua yang ada tidak memiliki  sesuatu  di sisi-Nya.

 

Kemudian substansi dari yang dikatakan berjuang paling utama karena, logikanya ketika kita mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng itu sangat diperlukan keberanian yang tinggi, sebab resikonya besar. Bisa-bisa kita akan kehilangan kebebasan, mendekam dalam penjara, bahkan lebih jauh lagi dari itu, nyawa bisa melayang. Karena itu, tidaklah mengherankan ketika pada suatu saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seorang sahabat perihal perjuangan apa yang paling utama, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng.”

Kemudian hubungan hadits amar ma’ruf nahi mungkar yang ke 11 dengan yang ke 34 tentunya sangat besar. Karena permasalahan yang terdapat didalam hadits no 11 dapat terselesaikan dengan hadits yang ke 34. Hal tersebut sangat bisa dilihat dengan jelas melalui pelajaran yang terdapat didalam hadits ke 34, yakni:

Pelajaran yang terdapat dalam hadits ke 34

1.     Menentang pelaku kebatilan dan menolak kemunkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya.

2.     Ridho terhadap kemaksiatan termasuk diantara dosa-dosa besar.

3.     Sabar menanggung kesulitan dan amar ma’ruf nahi munkar.

4.     Amal merupakan buah dari iman, maka menyingkirkan kemunkaran juga merupakan buahnya keimanan.

5.     Mengingkari dengan hati diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan tangan dan lisan berdasarkan kemampuannya.

Kesimpulan

Jadi kini sudah jelas, jawaban dari permasalahan hadits no 11 dapat tejawabkan dengan keberadaan hadits yang ke 34. Namun tentunya didalam pemerintahan membutuhkan sebuah aksi nyata yang mengawasi kinerja dari para pejabat, seperti keberadaan Komisi Yudisial, Komisi Pemberantasan Korupsi dengan sasaran utama terhadap kasus korupsi, dan juga yang bergerak di bidang media Komisi Penyiaran dan Informasi. Dan masih banyak lagi dengan bidang-bidang yang beragam.


About this entry