Zaman Peralihan

Judul buku : Zaman Peralihan

Penulis : Soe Hok Gie

Editor : Aris Santoso & Stanley

Penerbit : Gagas Media, Jakarta

Terbit : pertama, 2005

Tebal : 314 (hard cover)

 

Saya mempunyai mimpi yang lain. Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil putusan yang mempunyai arti politis (walau bagaimanapun kecilnya), selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani mwngatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, golongan. Saya masih ingat benar, bagaimana DMI bereaksi ketika saya membela Yap Thiam Hiem, DH – tidak mau membela kebenaran. Dan dari sumber-sumber lain mereka bilang: “Buat apa membela diri. Diakan kristen. Apa untungnya buat kita ?” ketika kebenaran dihitung dengan neraca militer untung rugi, Kristen atau Islam, asli atau tidak asli, seormas atau bukan, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. (Gie:147)

Soe Hok Gie, bukanlah nama yang asing bagi para aktifis kampus. Kotribusi yang diberikannya sangatlah besar, meski berupa catatan hidupnya, namun semangat yang terlukiskan melalui catatan hidupnya (tulisan-tulisannya) masih sangat relevan untuk dibaca para aktifis kampus di zaman sekarang.

Jika perguruan tinggi di masa silam menjadi alat pembinaan bangsa, maka kita bertanya sekarang: “ Apakah hal yang serupa terjadi dengan Universitas kita di masa kini?” Kecuali beberapa, saya khawatir jawabannya: TIDAK.(173).  Kalimat tersebut memang singkat dan sederhana yang terdapat dihalaman 173, namun perlu kiranya kita melihat bahwa kalimat tersebut hidup dan kaya akan makna

Dalam buku Zaman Peralihan ini terdapat kumpulan tulisan Gie lainnya yang pernah dimuat di berbagai media cetak tanah air. Membaca buku ini akan mengantarkan pada sebuah realitas Indonesia pada masa transisi dari orde lama ke awal orde baru, dan tuentunya banyak terjadi transisi politik, moral, dan kebudayaan. Dibutuhkan kecermatan dan pemahaman sejarah dimana tulisan yang terdapat didalam buku zaman Peralihan” ini ditulis, agar kita benar-benar bisa menangkap maksud dari tulisan-tulisan Gie dalam buku ini. Yang paling menarik dari tulisan-tulisan Gie yakni kapasitas atau statusnya sebagai seorang mahasiswa dalam menangkap berbagai isu dan permasalahan sosial-politik yang ada disekitarnya. Sebagai intelektual yang selalu resah melihat kondisi bangsa, Gie mencoba melemparkan pandangan-pandangannya mengenai dunia kemahasiswaan, kebangsaan, persoalan kemanusiaan dan catatannya sebagai turis pelajar ke Amerika Serikat sebagai tokoh Mahasiswa Indonesia. Memang dalam tulisan-tulisannya terdapat kesan Gie berharap banyak kepada pemerintahan orde baru. Hal tersebut dapat dimaklumi karena pada saat tulisan itu dibuat Soeharto baru saja berkuasa setelah menjatuhkan Soekarno yang dianggap diktator dan korup. Namun hal tersebut tidak membuat Gie menjadi ‘jinak’, karena sebagai pihak yang selalu netral ia tetap melakukan berbagai kritik terhadap orde baru. Dalam salah satu tulisannya Gie bahkan menuturkan kekecewaannya terhadap pemerintahan orde baru yang tidak berbeda jauh dengan orde lama, hanya ganti aktor saja. Lepas dari semua kelebihan dan kekurangannya, makna besar yang terkandung dalam buku ini adalah sebuah penyadaran akan posisi kaum intelektual muda kita khususnya mahasiswa agar turut berperan aktif dalam permasalahan kemanusiaan dan bangsa dengan tetap memegang hakikat dari mahasiswa yaitu menuntut ilmu serta hakikat sebagai manusia biasa yaitu dapat mencintai, dapat iba hati, dan dapat merasai kedukaan itu sendiri.

Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh penting yang memiliki andil penting dalam peristiwa jatuhnya rezim Soekarno ke tangan Rezim Soeharto atau yang sering dikenal Orde Baru. Sebagai seorang aktifis mahasiswa, Gie tahu akan ketidaksehatan dalam dunia kemahasiswaan, terutama didalam kampusnya sendiri. Karya-karyanya berupa tulisan memiliki banayak pengaruh akan semangat para mahasiswa didalam mengatasi isu-isu yang berkembang, namun tidak semua sahabatnya sejalan dengan pikirannya. Hal tersebut dikarenakan Soe Hok Gie atau yang akrab Gie memiliki prinsip untuk tidak bekerja sama dengan partai politik, karena pada waktu itu banyak golongan atau partai-partai politik yang ingin bekerjasama dengannya. Meskipun tawaran tersebut datang dari teman-temannya dengan iming-iming yang menggiurkan, hal tersebut terjadi karena dari partai politik telah mempengaruhi  temannya.

Tulisan-tulisan dalam buku Zaman Peralihan ini sangat tajam dan menggigit, dan seringkali sinis. Suatu kesinisan yang wajar yang sekaligus menjadi penanda konsistensi sikap Gie pada kemanusian dan idealismenya sebagai intelektual. Maka terasa wajar bila membaca catatan Soe Hok Gie dalam zaman peralihan ini rasa kemanusiaanya seperti dirobek-robek. Melalui tulisannya kita bisa melihat bahwa Gie adalah intelektual muda yang mampu menangkap gejala sosial yang terjadi disekitarnya

Gie juga manusia biasa yang memiliki rasa jenuh, lelah, bingung dan stagnan. Dalam beberapa kesempatan, kepada kawan-kawannya Gie mengaku selalu bingung. Baginya masa depan adalah suatu hal yang misterius. “Saya tak tahu masa depan saya. Sebagai orang yang berhasil ? Sebagai orang yang gagal terhadap cita-cita idealisme ? Lalu tenggelam dalam waktu dan usia ? Sebagai orang yang kecewa dan lalu meneror dunia ? atau sebagai orang yang gagal tetapi dengan penuh rasa bangga tetap memandang matahari terbit ? saya ingin mencoba mencintai semua. Dan bertahan dalam hidup ini.” (307)

Buku ini masih menyimpan banyak mutiara yang tak mungkin disebutkan satu persatu disini tentunya juga sangat bermanfaat dalam menambah wawasan bagi para membacanya Selebihnya buku ini layak untuk menjadi bacaan bagi mahasiswa atau mahasiswi guna menambah wawasannya. Karena kehadiran buku ini bisa memberikam arti kepada kita bahwa konteks sejarah meski berbeda namun perbedaan tersebut hanyalah terdapat di tahun dan tokohnya. Hal tersebut menjadikan buku ini menarik untuk dibaca dan masih relevan dengan keadaan sekarang yang ada di zaman ini, seperti halnya ungkapan filsuf George Santayana, bahwa orang yang tidak belajar dari sejarahnya cenderung akan mengulangi kesalahan yang sama. Berharap dengan belajar melalui membaca tulisan yang mempunyai arti sejarah, kita bisa memperbaiki kualitas diri kita atau bahkan bangsa kita yang tak lain bisa kita dapatkan melalui buku “Zaman Peralihan”.


About this entry